Rabu, 14 November 2012

Tugas Jurnalistik (Feature)



Tugas Feature
Senyuman sang anak yatim

    Senyuman khas  yang terlontar dari bibirnya menggambarkan betapa bahagia hidupnya. namun pemikiranku salah  setelah senyuman itu seketika berubah menjadi untaian air mata ketika dia menceritakan perjalanan hidupnya.
    Putra lelaki berusia 18 tahun yang kini tercatat sebagai mahasiswa di sebuah universitas negeri di daerah jogyakarta merupakan seorang anak yatim. Anak berprestasi ini hanya mengandalkan beasiswanya untuk bisa melanjutkan kuliah demi mengejar cita-citanya.
    Ketika putra berumur 14 tahun ayahnya meninggal dunia karena sakit, dan seketika itu juga hidupnya berubah drastis. dia harus menjadi tulang punggung keluarga  menggantikan ayahnya untuk menghidupi ibu dan kedua adik perempuannya. Berbagai pekerjaan pun rela ia lakukan. dahulu ketika dia berangkat ke sekolah  dia selalu membawa keranjang besar berisi gorengan yang dibuat oleh ibunya untuk dititipkan di kantin sekolah, dan sehabis pulang sekolah ia langsung mengganti bajunya untuk bekerja menyemir sepatu keliling di daerah malioboro jogjakarta. Pendapatan yang ia dapatkan tak menentu, kadang cukup untuk makan dan kebutuhan membeli peralatan sekolah, dan terkadang hanya cukup untuk makan dan peralatan sekolah pun meminjam kepada temannya.
   Setelah ayahnya meninggal keluarganya memutuskan untuk tinggal di rumah kakeknya, karena tidak mampu untuk membayar kontrakan. Beruntung putra merupakan anak yang cerdas, sehingga saat sekolah dia selalu mendapatkan beasiswa, dan ketika kuliahpun dia mendapatkan beasisawa dari universitas negeri yang cukup ternama di Indonesia. Walaupun kisah hidupnya begitu menyedihkan tetapi dia tidak pernah mengeluh, dia lebih suka menjalani hidupnya dengan selalu tersenyum, karena itu dapat membawa suasana hatinya menjadi lebih baik.
    Hanya satu cita-citanya, membawa keluarganya ke kehidupan yang lebih baik. Dapat menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil ke pendidikan tertinggi dan membahagiakan ibunya. Mendengar kisah hidupnya seketika air mata ku menetes,  aku merasa nasib ku lebih beruntung dari padanya, aku hanya bisa berdoa supaya apa yang ia cita-citakan dapat tercapai, dan dari cerita ini kita dapat mengambil sebuah hikmah, bahwa Tuhan menyelipkan kelebihan di antara kekurangan makhluknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar